Di Jl. HOS Cokroaminoto 97, Yogyakarta, Firmansyah Budi Prasetyo
(30), sang pemilik Cokro Tela Cake, menjual berbagai kue olahan
singkong. Sarjana hukum lulusan UGM ini mengaku menjalani bisnisnya
tidak secara instan. Sebelumnya, ia pernah berjualan Tela Krezz yang
sukses dan akhirnya berekspansi mengolah singkong menjadi penganan yang
lebih bervariasi,.
“Singkong di wilayah Jogja sangat berlimpah, apalagi belum banyak
yang mengembangkan dan mengolahnya jadi makanan yang lebih modern. Jadi
ini potensi bisnis yang sangat besar dan bisa menggeser imej singkong
sebagai penganan ndeso
,” terang Firman menjelaskan ketertarikannya mengolah singkong.
Menurutnya lagi, membuat tela cake
membutuhkan proses cukup panjang dan harus melalui trial error
berkali-kali. Sebab referensinya dalam membuat cake
berbahan singkong ketika itu masih minim.
Namun semua pengorbanannya terbayar. Saat ini Firman sudah memiliki
lima gerai Cokro Tela Cake yang tersebar di Jogja. Bahkan, pandangan
miring mengenai singkong sebagai makanan desa pun berhasil diubahnya.
“Saat ini Cokro Tela Cake sudah menjadi salah satu oleh-oleh Jogja yang
wajib dibeli. Apalagi pilihan rasanya juga sudah makin variatif. Bisa
bikin orang penasaran dan ingin nyoba
semuanya,” kata pria yang sering meraih penghargaan sebagai enterpreuner muda.
Showing posts with label kewirausahaan. Show all posts
Showing posts with label kewirausahaan. Show all posts
Mahasiswa UGM Juara Wirausaha Muda Mandiri Tingkat Nasional
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta An Nuur Budi Utama menjuarai kompetisi Wirausaha Muda Mandiri 2011 tingkat nasional berkat usaha jasa penerbitan dan percetakan yang didirikannya.
"Usaha yang digawangi oleh mahasiswa Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UGM itu berhasil menjadi juara pada kategori perdagangan dan jasa untuk kelompok mahasiswa," kata Ketua Bidang Kompetisi Center of Enterpreneur Development (CED) UGM Ibnu Wahid FA di Yogyakarta, Selasa (31/1/2012).
Menurut dia, An Nuur merupakan salah satu mahasiswa binaan CED UGM yang berhasil lolos dan menjadi jawara dalam kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2011. CED UGM merupakan lembaga yang didirikan UGM untuk membina mahasiswanya dalam berwirausaha.
"Pada WMM 2011 tercatat sebanyak 3.741 pendaftar dari seluruh Indonesia yang mengikuti kompetisi yang terbagi dalam empat kategori untuk kelompok mahasiswa dan empat kategori kelompok alumni dan pascasarjana," katanya.
An Nuur mengatakan, ide bisnis yang ditekuninya saat ini berawal saat perekonomian keluarganya dalam situasi kebangkrutan. Kala itu orang tuanya gagal dalam pemilihan calon legislatif.
"Kondisi tersebut akhirnya mendorong saya untuk bisa hidup mandiri dan mulai membuka usaha jasa penerbitan dan percetakan," katanya.
Menurut dia, pada November 2009 dirinya memulai usaha jasa foto kopi dan percetakan. Dengan bermodal Rp 16,75 juta untuk membeli mesin percetakan dirinya membuka usahanya.
"Pada awal Januari 2010 saya mengembangkan bisnis dengan membuka usaha penerbitan dan percetakan buku pendidikan yang beroperasi dengan nama Dee Publishing," katanya.
Ia mengatakan, usaha yang dijalankan itu fokus mencetak dan menerbitkan buku-buku pendidikan seperti buku ajar, jurnal, dan buku panduan. Selain bahan kuliah, dirinya juga menerbitkan buku pendidikan untuk pelajar SMP dan SMA.
"Hingga saat ini percetakan itu telah menerbitkan sebanyak 142 judul buku. Beberapa buku yang telah diterbitkan adalah buku bahan kuliah ilmu teknik, peternakan, pertanian, sosial, kebidanan, dan kedokteran," katanya.
Menurut dia, buku-buku tersebut telah digunakan di sejumlah universitas antara lain UGM, Universitas Padjajaran, Universitas Pasundan, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, Akademi Kebidanan Muhammadiyah Cirebon, dan sejumlah sekolah di Salatiga dan Madiun.
"Usaha yang saya jalankan memang berbeda dengan penerbitan dan percetakan pada umumnya. Dee Publishing tidak memberikan batasan minimal cetak dalam setiap penawarannya," katanya.
Ia mengatakan, Dee Publishing mencetak buku berdasarkan pesanan. Buku-buku yang dicetak semuanya pasti terjual karena memang berdasarkan pesanan.
Dalam pemberian royalti, dirinya memberikan perlakuan yang berbeda. Dirinya memberikan royalti sebesar 25 persen, sedangkan penerbit pada umumnya hanya memberikan royalti sebesar 10 persen.
Selain itu, dalam menjalankan usaha, dirinya juga memfasilitasi para penulis buku dalam proses penulisan dengan memberikan panduan cara penulisan yang baik dan benar.
"Kini saya mempekerjakan tiga karyawan tetap dan tiga part timer atau paruh waktu. Omzet pada 2011 mencapai Rp 248 juta," katanya.
Sumber :
ANT