Bursa kerja: Moyes Akui Ketangguhan ManCity

Bursa kerja: Moyes Akui Ketangguhan ManCity


Moyes Akui Ketangguhan ManCity

Posted: 22 Sep 2013 03:02 PM PDT

MU menyerah dengan skor 1-4 di derby Manchester awal musim ini.

Klub

Berita Terkait

David Moyes (REUTERS/Phil Noble)

VIVAbola - Manajer Manchester United (MU), David Moyes mengakui keunggulan Manchester City (ManCity). Dalam derby Manchester, Minggu 22 September 2013, MU menuai kekalahan dengan skor telak 1-4 dalam laga di Etihad Stadium.

Sinyal kemenangan The Citizens sudah bisa diprediksi. Sergio Aguero mencetak dua gol dalam laga bergengsi di kota Manchester itu.

Dua pemain ManCity lainnya,  Yaya Toure dan Samir Nasri masing-masing menyumbangg satu gol. Sedangkan, MU sendiri hanya mampu menciptakan gol hiburan yang dicetak Wayne Rooney dari tendangan bebas.

"Kami tidak bermain bagus. Mereka lebih cepat dibanding kami. Saya harus katakan, ManCity mengawali laga degan baik," ujar pelatih asal Skotlandia itu sebagaimana dikutip dari Skysports.

Menurut Moyes, ManCity mampu mengendalikan pertandingan sejak kick-off. Barisan pemain tengah tim asuhan Manuel Pellegrini itu bekerja dengan efektif.

"Kami tidak pernah bisa mengatasi permainan lini tengah mereka. Itu sebabnya, ManCity mampu tampil mendominasi dan kami tidak," kata mantan pelatih Everton tersebut.

Kendati menelan kekalahan telak, Moyes tetap memberikan kredit besar kepada tim asuhannya yang telah bekerja keras untuk mengimbangi permainan ManCity. Klimaksnya, saat The Red Devils sukses mencetak satu gol melalui Rooney.

"Saya kira, kami akan tampil lebih baik. Musim ini masih sangat panjang. Jadi kami akan melupakan kekalahan ini dan akan terus maju,"

Sejak ditangani Moyes mulai musim ini, MU belum pernah menang melawan tiga tim besar dalam lima partai terakhir di ajang Premier League. MU harus menelan kekalahan dari Liverpool dan ManCity serta bermain imbang kontra Chelsea.


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

"Garuda Muda", Harapan di Tengah Krisis Sepakbola Indonesia

Posted: 22 Sep 2013 02:30 PM PDT

Juara Piala AFF U-19 tuntaskan dahaga gelar selama 22 tahun.

Klub

Berita Terkait

Trofi Piala AFF U-19 diangkat pemain Timnas Indonesia U-19 (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

VIVAbola - Masyarakat sepakbola Indonesia sedang diliputi euforia. Ungkapan rasa bangga tak henti-hentinya berkumandang setelah tim nasional Indonesia U-19 menjadi kampiun Piala AFF U-19. Keberhasilan ini menjadi sebuah titik cerah di tengah terperosoknya prestasi timnas dalam dua dekade terakhir.

Sepakan penalti Ilham Udin Armain mengarah ke pojok kanan bawah gawang Timnas Vietnam yang dikawal Lee Van Troung. Sang kiper gagal membaca bola dengan baik. Sepakan itu membuat publik yang memenuhi Gelora Delta Sidoarjo bersorak-sorai.

Setelah disajikan laga 90 menit yang penuh tensi tinggi, suporter juga dibuat dag-dig-dug selama 30 menit perpanjangan waktu. Permainan keras penuh peluang disajikan kedua tim. Namun, tak ada gol yang tercipta.

Babak adu penalti tidak kalah seru. Kedua tim sempat saling unggul. Bahkan, pemenang baru ditentukan oleh penendang ke sembilan. Saat itulah, Ilham menjadi pahlawan kemenangan "Garuda Muda".

Pantas saja kemenangan ini disambut meriah oleh berbagai elemen suporter di tanah air. Bagaimana tidak, terakhir Indonesia menjadi juara pada SEA Games 1991. Itu pun bukan pada kalender FIFA. Jika di ajang konfederasi Asia, torehan timnas masih jauh dari prestasi.

Gelar ini juga menjadi yang pertama untuk Indonesia di level U-19. Sebelumnya, anak-anak muda tanah air selalu mentok di fase grup selama tiga kali ikut di Piala AFF U-19, yaitu pada tahun 2002, 2005 dan 2011 silam.

Harapan di Tengah Krisis

"Pertama yang ingin saya sampaikan, jadikan kemenangan hari ini sebagai momentum kemajuan sepakbola Indonesia. Publik harus bangga dengan gelar ini, setelah 21 tahun dahaga (tanpa gelar)," tutur pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri, usai menganggkat trofi juara.

Ucapan coach Indra tentu bisa dimengerti jika anda memperhatikan kondisi sepakbola Indonesia saat ini. Buruknya pretasi timnas sekitar satu dekade terakhir ditambah  carut-marut kondisi politik di jajaran elit Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Namun, "angin segar" berhembus ditengah upaya PSSI meningkatkan prestasi timnas. Bahkan, Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, tertangkap kamera berulang kali mengucapkan syukur usai kemenangan ini.

Namun, Indra mengingatkan bukan berarti semua sudah selesai. Gelar juara ini malah dinilai sebagai batu pijakan menuju prestasi-prestasi gemilang berikutnya.

"Saya berharap ini terus berlanjut karena muaranya bukan juara di AFF. Tapi bagaiamana prestasi itu terjaga hingga level senior," lanjut pria yang mendedikasikan dirinya untuk pembinaan usia muda tersebut.

Timnas U-19 tidak bisa bersantai diri. Setelah mendapat predikat juara Asia Tenggara, skuad "Garuda Muda" harus membuktikan kualitasnya di Kualifikasi Piala Asia U-19. Irvan Dimas Darmono cs bergabung di Grup G, bersama Korea Selatan, Laos dan Filipina.

Semoga Menular

Keberhasilan timnas U-19 patut menjadi gambaran kekuatan Indonesia. Tim ini mampu tampil gigih dalam bermain, tak kenal menyerah dan mampu keluar dari tekanan. Identitas seperti ini yang kerap hilang dari tubuh "Garuda".

Mental yang kedodoran, terlalu nafsu menyerang, tegang di saat menentukan sampai membuat kesalahan-kesalahan elementer menjadi "penyakit lama" timnas Indonesia di level manapun. Namun, DNA negatif itu mulai pudar di tubuh tim U-19.

Meski dinilai menang beruntung oleh pelatih Vietnam, penampilan Indonesia patut mendapatkan kredit. Hal ini diharapkan menular baik ke level bawah maupun atas sekalipun. Bahkan, timnas senior patut berkaca pada daya juang adik-adiknya.

Sekarang, giliran Timnas Indonesia U-23 yang mengemban tugas berat. Andik Vermansyah dan kawan-kawan harus melalui kerasnya persaingan dengan negara-negara Timur Tengah di Islamic Solidarity Games (ISG).

Namun, target utama yang jadi incaran seluruh suporter Indonesia adalah medali emas SEA Games 2014 di Myanmar. Kegagalan saat menjadi tuan rumah dua tahun lalu harus dibayar tuntas oleh tim asuhan Rahmad Darmawan tersebut.

Sedangkan untuk Timnas Senior, daya juang dan semangat pantang menyerang "Garuda Muda" patut dicontoh saat tampil di Pra-Piala Asia 2015 mendatang. Lawan-lawan berat seperti China, Arab Saudi maupun Iran bukan tidak mungkin untuk dikalahkan.

Tapi tiket menuju Australia tahun depan bukan target utama yang disodorkan PSSI pada Jacksen F Tiago. Skuad "Garuda" tentu ingin menuntaskan penantian mereka di Piala AFF dan menjadi kampiun di regional Asia Tenggara.

Kegagalan demi kegagalan di masa lalu harus segera dilupakan untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Sekarang kita melihat kedepan, ke arah prestasi yang sudah ditorehkan oleh anak-anak muda Indonesia di Jawa Timur semalam. Bukan tidak mungkin, ini adalah awal dari kebangkitan kembali Indonesia jadi "macan Asia".

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Jalan Berat Indonesia Merebut Trofi Piala AFF U-19

Posted: 22 Sep 2013 02:26 PM PDT

Indonesia harus mengalahkan Vietnam lewat adu penalti di final.

Klub

Berita Terkait

Indonesia juara Piala AFF U-19 (ANTARA FOTO)

VIVAbola - Timnas Indonesia U-19 mengukir sejarah baru di gelaran turnamen AFF U-19. Garuda Muda tampil sebagai juara usai mengalahkan Vietnam lewat skenario adu penalti setelah di waktu normal kedua kubu bermain imbang tanpa gol.

Bertanding di Stadion Gelora Deltra, Sidoarjo, Minggu 22 September 2013, Vietnam menjadi lawan sengit bagi Evan Dimas dan kawan-kawan. Pertandingan berjalan imbang tanpa gol hingga ke babak extra-time 2x15 menit. Namun, kedua kubu tidak kunjung menciptakan gol.

Laga akhirnya ditentukan lewat adu penalti. Di babak adu jitu tembakan dari titik 12 pas, kiper Indonesia, Ravi Murdianto ikut menentukan kemenangan Indonesia. Tuan rumah menutup laga dengan skor 7-6 setelah Ilham Udin mengoyak jala Vietnam.

Kilas balik ke belakang, perjalanan Indonesia meraih gelar juara menemui jalan berat dari babak penyisihan grup B. Di dua pertandingan awal, tim besutan Indra Sjafri itu tampil meyakinkan setelah memetik kemenangan lima gol tanpa balas saat menghadapi Brunei Darussalam.

Di partai selanjutnya, Indonesia mulai mendapat perlawanan berarti dari Myanmar. Terbukti Indonesia hanya berhasil meraih kemenangan dengan skor 2-1.

Usai melewati dua partai dengan memetik poin penuh, Tim Merah Putih dijegal Vietnam dengan skor 1-2. Sempat unggul lewat gol Evan Dimas, Indonesia gagal mempertahankan keunggulan hingga akhirnya Vietnam mampu menambah dua gol lewat Pham Duc Huy dan Nguyen Van Toan.

Kendati menelan kekalahan dari tangan Vietnam, nyali bertanding Indonesia tidak menciut saat menghadapi Thailand. Indonesia mampu menggulung Thailand dengan skor 3-1 di pertandingan ke-4.

Di pertandingan terakhir lawan Malaysia, Indonesia tidak boleh kalah jika ingin melanjutkan langkah ke semifinal. Beruntung, Indonesia yang membutuhkan hasil imbang untuk melaju ke babak empat besar setelah bermain seri 1-1 melawan sang rival abadi.

Pada babak empat besar, Indonesia menghadapi tim negeri tetangga Timor Leste. Pada pertandingan ini, Indonesia kembali mengukir kemenangan dengan skor 2-0. Gol Indonesia dilesakkan Ilham Udin dan Hargianto.

Puncaknya, di partai final, Indonesia mampu membalaskan dendam atas Vietnam setelah di babak pertama kalah dengan skor 2-1. Indonesia mengemas trofi Piala AFF U-19 untuk pertama kali dalam sejarah setelah melawati skenario adu penalti.


This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters recommends:

Bursa kerja: Moyes Akui Ketangguhan ManCity cari kerja