Bursa kerja: Ditemukan, Tanda-tanda Kehidupan Tertua di Bumi

Bursa kerja: Ditemukan, Tanda-tanda Kehidupan Tertua di Bumi


Ditemukan, Tanda-tanda Kehidupan Tertua di Bumi

Posted: 14 Nov 2013 03:27 PM PST

VIVAnews - Tim peneliti dari University of Western Australia berhasil menemukan tanda-tanda kehidupan tertua di Bumi. Tim itu menemukan jejak mikroba yang hidup pada 3,5 miliar tahun yang lalu di bebatuan di Australia.

Melansir Telegraph, 14 November 2013, temuan sisa bakteri yang kemungkinan berumur 3,5 miliar tahun itu di sebuah sendimen formasi batuan tertua di dunia yang ada di wilayah Pilbara, Australia bagian barat.

Menurut David Wacey, pemimpin penelitian dari University of Western Australia, selama ini banyak yang mengklaim banyak kehidupan pada zaman 3,4 sampai 3,5 miliar tahun yang lalu, tapi tak ada buktinya.

"Banyak yang mengklaim batuan di Greenland adalah yang tertua di Bumi. Sangat sulit untuk membuktikan batuan itu yang tertua. Tapi, di wilayah Pilbara kami berhasil menemukan mikroba yang bisa dilihat dengan mikroskop," kata Wacey.

Wacey mengaku tidak melihat mikroba itu secara individual. Tapi, melihat jejak makhluk yang tidak memiliki inti sel itu dalam jumlah yang sangat banyak. Jejak-jejak itu ditinggalkan di dalam batuan Dresser Foundation dekat kota Port Hedland.

"Mikroba-mikroba itu tersembunyi di dalam butiran pasir. Selain itu, kami juga menemukan bahan-bahan lain yang kaya akan karbon. Tim peneliti juga mempercayai temuan ini dapat membantu dalam mencari kehidupan di planet lain," ujar Wacey.

Dengan temuan ini para peneliti berharap menemukan aplikasi baru dalam mencari bahan-bahan apa saja yang mendukung kehidupan di planet Mars, Jupiter, dan lainnya.

"Dengan mengetahui mikroba tertua di Bumi dan keadaan lingkungannya, maka di masa depan kendaraan Mars Rover akan lebih mudah mencari bahan kimia yang benar-benar mendukung awal kehidupan," ucap dia. Hasil penelitian ini juga sudah dipublikasikan di Jurnal Astrobiology. (eh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

VIDEO: Berkendara Mobil di Jalur Ekstrem Menantang Maut

Posted: 14 Nov 2013 03:15 PM PST

Tidak semua orang berani berada di ketinggian.

Jum'at, 15 November 2013, 06:15 Sandy Adam Mahaputra, Herdi Muhardi

VIVAnews – Tidak semua orang berani berada di ketinggian, terlebih lagi saat melewati jalur ekstrem yang berbatasan langsung dengan jurang.

Dilansir Carscoop, Kamis 14 November 2013, sebuah mobil SUV (Sport Utility Vehicle) mencoba melintasi jalan, di mana bagian sebelah kiri jalan langsung berbatasan dengan jurang setinggi 600 meter dari sungai yang berada di dasar.

Pada bagian kanan jalur juga berbatasan dengan tebing bebatuan. Salah satu penumpang merekam aksi menegangkan ini yang kemudian diunggah ke situs YouTube berdurasi tiga menit 15 detik.

Meski terdengar para penumpang tertawa, tak sedikit dari mereka merasa takut dan berteriak ketika mobil berbelok. Sedikit saja si pengemudi lengah, bukan mustahil mobil terjun bebas.

Namun sayang, tidak disebutkan di mana lokasi jalur ekstrem ini. Berikut videonya:


VIDEO LAINNYA

KIRIM KOMENTAR

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Setelah Dikeruk, Kedalaman Waduk Pluit Baru 2 Meter

Posted: 14 Nov 2013 03:12 PM PST

VIVAnews - Sebagai salah satu antisipasi banjir di Ibu Kota, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menormalisasi Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. Namun memasuki puncak musim hujan ini normalisasi Waduk Pluit belum sepenuhnya rampung.

Kepala Bidang Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, DJoko Susetyo, menuturkan saat ini baru 20 hektare dari total 80 hektare keseluruhan waduk yang dinormalisasi.

Adapun kedalaman pengerukan baru mencapai 1-2 meter. Padahal, idealnya kedalaman Waduk Pluit itu sampai 10 meter.

"Itu lumayan lah. Air dari Kali Cilangkeng sudah bisa masuk karena sudah lumayan dalam. Setelah dikeruk kalau debitnya paling bertambah sekitar 300 ribu meter kubik dari sebelumnya," kata Djoko kepada VIVAnews, Jumat, 15 November 2013.

Djoko mengatakan kini pengerukan masih tetap dilakukan, hanya saja difokuskan pada pengerukan tanaman eceng gondok yang terus tumbuh di sekitar waduk yang disebut-sebut sebagai jantung airnya Ibu Kota Jakarta itu.

"Nanti setelah ini akan masuk CSR (Corporate Social Responsibility). Nanti akan ditambah lagi kedalamannya sampai 10 meter," katanya

Djoko menambahkan, saat ini Dinas PU belum bisa menentukan apakah penambahan kapasitas 300 ribu debit air tersebut bisa menampung air yang masuk ke sana atau tidak. Sebab, kata dia, debit air hujan yang datang tidak bisa diprediksi.

"Kalau cukup apa tidaknya tergantung intensitas hujan. Tapi setelah dikeruk akan cukup menampung," ujar dia. (eh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Bursa kerja: Ditemukan, Tanda-tanda Kehidupan Tertua di Bumi cari kerja